Minggu, 11 Oktober 2009

Ketika Membenci

Terkadang ada saja perilaku yang membuat kita benci terhadap orang lain yang ada dalam kehidupan kita, entah dari mana asalnya yang jelas terjadi perbenturan antara diri kita dengan orang tersebut. rasa tidak suka menjadikan kita melihat segala aspek yang menyangkut dengan diri orang tersebut adalah buruk adanya secara keseluruhan dan tanpa kecuali. Namun benarkah perasaan itu bagi diri kita sendiri atau hal tersebut hanya akan menjerumuskan kita pada gerakan penghancuran diri sendiri.

Kebencian adalah hal yang sangat menyakitkan apabila kita rasakan, terkadang ada saja hal yang menjadikan kita sebagai seorang pembenci sejati entah dalam hal apa, mungkin hal tersebut bertabrakan dengan idealisme dan juga kepentingan kita atau mungkin bersebrangan dengan harapan dan juga keinginan kita. Kebencian berasal dari rasa untuk menyelamatkan apa yang sekarang kita rasakan, menjauhkan kita dari apa yang dapat menghancurkan kita, namun kesemuanya atas dasar logika dan juga nalar kita saja, bukan berdasar dari apa yang bersifat hakiki.

Kebencian dalam tulisan ini akan dibedakan dengan rasa tidak suka, rasa tidak suka merupakan keadaan diri menjauhi apa yang tidak disukai, tidak suka, hanya itu, dan benci sangat berbeda, disini adalah keadaan perasaan diri terhadap sesuatu yang bersifat entah itu baik atau buruk dalam keadaan normal, namun mendorong diri sampai ingin utnuk melakukan tindakan agresi kepada objek kebencian. Kebencian mendorong manusia untuk memiliki panas yang membara didalam hati, menjadikan diri sangat tidak stabil dan membakar kepala akibat mendidihnya darah akibat kebencian.

Apa yang dirasakan manusia terkadang membutakan logika yang ia miliki, segala upaya akan dilakukan untuk melakukan tindakan negatif terhadap objek yang dibenci selama ada kesempatan, atau bahkan sampai-sampai menciptakan kesempatan tersebut untuk memuaskan hasrat kebenciannya, entah dengan menyakiti atau bahkan sampai menghilangkan nyawa secara sadis dan tidak berperikemanusiaan. Akibat kebencian yang dipupuk dan penuh dengan rasionalisasi-rasionalisasi yang salah dan mengakibatkan kepercayaan yang salah didalam kepala manusia sehingga memandang segala sesuatu yang dilakukan oleh yang dibenci sebagai sesuatu yang merugikan dirinya (pembenci).

Rasa tidak suka mungkin boleh saja kita tanamkan terhadap segala macam hal yang bertentangan dengan dasar ideologi kita, sebagai contoh untuk orang beragama akan tidak menyukai segala macam hal yang ditetapkan sebagai salah oleh agamanya, maka para pemeluk agama tersebut akan sedikit demi sedikit untuk mengikis keberadaan hal yang dianggap salah terebut dengan dasar tidak suka, dan bukan atas dasar kebencian yang mereka tanamkan dalam diri mereka. Karena rasa benci itu sendiri yang membakar apa yang ada dalam diri mereka menjadikan seseorang terbutakan dalam kebencian, terseret dalam nikmatnya membenci dan keinginan untuk menyiksa yang dibenci, secara sadis dan tidak bermoral sama sekali, hanya nafsu yang dikembangkan, dihalakan oleh peraturan namun dengan cara yang lebih tidak bermoral. Maka dari kebencian itu akan membawa seseorang yang membawa panji kebenaran sebagai seseorang yang hanya bertopeng kebenaran dengan tujuan, niat dan keinginan yang buruk.

Menjauhkan diri dari kebencian akan membuat kita dapat berpikir dan memprediksi dengan semestinya, tidak terbawa atau terpengaruh oleh emosi negatif yang menyesatkan, menjauhkan kita dari keinginan sesat yang dibalut dalam kemasan keinginan suci, menjauhkan kita dari petaka yang akan membunuh diri kita sendiri. perasaan yang membutakan seperti benci terkadang memiliki nikmat tersendiri bagi pemiliknya, mereka terlihat puas jika sudah dapat membalas kebenciannya, mereka terlihat seperti ingin ada dan ada lagi pihak yang mereka benci, sehingga rasio mereka mencari kesalahan dan pembenaran untuk dapat membenci orang lain lalu dengan demikian memperlakukannya dengan sangat keji dan tanpa belas kasih hanya kebencian yang mengambil alih dan menyisakan duka yang dalam bagi diri sang korban.

Kesadaran diri dari kebencian adalah benar adanya, ketika kita dirugikan orang lain atau berada pada posisi terancam kebencian terkadang muncul, entah walau hanya sepercik atau sudah sampai membakar, membuat diri mengambil langkah pasti yang akan menyelamatkan diri sendiri entah dengan menghindar atau maju menyerang, hal tersebut dilakukan tanpa penilaian yang rasional hanya dengan penilaian dasar dari apa yang kita rasakan, mengakibatkan kita terjerumus dalam kesalahan dalam pengambilan langkah.

Tindakan yang baik adalah tindakan yang dilakukan secara sadar, melalui pemikiran atau mungkin melalui intuisi perasaan yang bersih, dan bukan dengan pengaruh benci yang dirasionalisasi dan juga bukan dengan intuisi delusi. Manusia tidak akan merasakan jernih dan tenang didalam dirinya jika masih menyimpan kebencian didalam dirinya, entah itu dendam dan juga perasaan iri, dengki dan srei, walau dalam diri setiap insan hal tersebut selalu ada sebagai suatu pembawaan dan juga ilham untuk mencondongkan diri pada keburukan, tetapi dengan dirinya sendiri sebagai raja bagi diri sendiri dapat menahan segala macam hal tersebut hingga terdorong sampai titik yang rendah dan serendah-rendahnya karena jelas semua itu tidak dapat dihilangkan dari dalam diri setiap insan.

Kemampuan manusia untuk menjernihkan perasaannya sendiri merupakan berkah yang mereka miliki, manusia dapat menenangkan diri dalam keadaan yang paling kalut sekalipun, menjauhkan diri dari keadaan sangat menyiksa yang ditimbulkan oleh perasaannya sendiri. kalaupun parasaan itu datang akibat suatu tindakan tidak adil yang secara nyata dilakukan oleh orang lain maka kemampuan manusia untuk menerima dan memaafkan adalah lebih baik, sehingga manusia walau telah dirugikan sekalipun, akan membawa dirinya menjadi lebih kuat, karena dengan kesadarannya yang sehat mampu memberikan kesempatan pada dirinya untuk melahap rasa sakit yang berfungsi bagai meminum jamu (pahit namun menyehatkan), mengambil pelajaran bahwa apa yang telah dilakukan orang lain terhadap diri kita jangan sampai kita lakukan kepada orang lain jikalau hal itu kita rasa menyakitkan diri kita, kemudian dengan memaafkan dan menerima mampu menjadikan diri kita sebagai pemilik mental yang kuat, jauh dari sifat manja secara perasaan, kemudian membuat kita lebih ‘luwes’ dalam menghadapi kehidupan, dan yang terakhir dan yang terpenting adalah sebagai bahan introspeksi diri, bagaimana kita akhirnya bisa melihat apa yang kita lakukan selam ini terhadap orang lain, apakah sudah memberikan rasa sayang dan kasih bagi semua ataukah kita juga menyisakan kebencian tersendiri terhadap orang-orang yang ada disekitar kita.

Demikian betama meruginya kita jika menghabiskan energi yang kita miliki untuk membenci, merubah apa yang tadinya baik menjadi buruk, menyebarkan kerusakan di muka bumi, sedangkan alam itu berjanji bahwa apa yang kita tanam maka akan kita tuai, menanam singkong maka akan tumbuh singkong, menanam cinta akan menuai cinta, menanam benci akan mebuahkan petaka, itulah ketetapan.

Baca terusannya......

Jumat, 02 Oktober 2009

Manusia #1

Adakalanya menjadi manusia itu memikirkan manusia lain, merasa takjub dan juga terheran-heran dengan apa yang mereka lakukan, bertindak sebagai orang luar yang tidak terkait dengan manusia lain adalah sulit rasanya dilakukan oleh seorang manusia dalam menghadapi hidupnya, karena setiap orang memiliki kehidupannya masing-masing. Terkadang ada saja seseorang yang ingin memperhatikan manusia namun ia sendiri lupa bahwa ia juga manusia dan juga memiliki lingkaran kehidupannya sendiri.

Perasaan dapat lepas dari kehidupan adalah dusta bagi manusia selama ia masih bernafas, karena ia akan tetap terikat dnegan gravitasi di atas bumi dan juga membutuhkan komunikasi, sosialisasi dan kasih sayang. Yang menakjubkan dari menjadi manusia adalah kehidupan itu sendiri walau karena manusia yang selalu saja melihat bahwa ada saja hal diluar sana yang membuat mereka merasa gempar seperti penemuan benda asing atau mungkin kejadian-kejadian yang luar biasa, dimana mereka yang melihatnya merasa sangat takjub. Padahal kalau dipikir-pikir kehidupan yang kita jalani sebagai ‘kehidupan biasa’ itu sendiri adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, bagaimana bisa kita berpikir merasakan dan juga mengalami berbagai macam perasaan dalam diri kita sendiri.

Menjadi manusia memiliki sudut pandangnya masing-masing, sesuai dengan apa yang telah dipelajari dan apa yang telah dialami. Menjadi manusia adalah ajaib, terlahir tanpa mengetahui apa-apa, tanpa pernah ingat bahwa diri pernah memilih untuk terlahir dari siapa dan dalam keadaan bagaimana juga sebagai siapa. namun karena seperti sudah terbiasa dengan sesuatu yang ‘biasa’ itu sendiri manusia merasakan bahwa hidup hanyalah siksaan, kesenangan dan berlalu saja, karena manusia sendiri yang tidak mau melihat apa yang ada disekitarnya, bahkan mereka tidak mau menyadari apa yang sebenarnya mereka sadari.

Dengan hanya memikirkan tentang keadaan manusia itu sendiri, mereka terkadang lupa, mengalami kerugian dari hari ke hari bahkan penulis sendiri yang terkadang tenggelam dalam dunia yang konvensional seperti apa yang biasa kita alami sehari-hari, sebagai contoh, bangun pagi lalu mandi lalu sarapan lalu berangkat kerja lalu pulang lalu makan lalu minum lalu tidur dan begitu lagi kemudian harinya, mungkin terkecuali sabtu dan minggu bisa makan lalu minum lalu tidur saja karena hari libur.

Yang seperti contoh diatas adalah kehidupan manusia pada jaman sekarang, namun bukan bermaksud meremehkannya, melainkan dari sudut pandang yang lain hal tersebut adalah menakjubkan, bahkan manusia dalam menjalani seperti contoh yang ada diatas akan dapat merasakan tekanan yang teramat sangat, entah karena masalah apa namun pasti saja ada masalahnya. Manusia dan pemikirannya adalah satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, menjadi manusia yang mau untuk keluar dari kebiasaan berpikir yang biasa akan mengakibatkan pertentangan antara satu manusia dan manusia yang lain karena manusia seperti telah memiliki kesepakatan bersama untuk cara berpikir yang dapat diterima oleh manusia lainnya.

Kebebasan manusia sendiri dalam berpendapat dan juga menentukan apa yang ingin dipikirkannya terkadang telah diatur oleh pola hidup dan juga kesepakatan sosial yang telah terbentuk selama ratusan tahun, namun kebudayaan dan juga tradisi yang dimiliki manusia seharusnya dapat menuntun manusia untuk menjadi manusia yang bebas secara pribadi untuk mengekspresikan dirinya secara baik walau hanya untuk dirinya sendiri.

Hilangnya nilai-nilai potensi manusia terletak pada apa yang telah mereka sepakati bersama dengan manusia lainnya, dengan contoh apakah itu yang baik dan apakah itu yang buruk baik itu secara tertulis ataupun secara tersirat saja. Manusia makhluk yang kompleks dengan kekhasannya yang cenderung membuat dirinya takjub akan apa yang ada pada dirinya sendiri. itulah manusia.

Entahlah apa itu manusia, saya manusia dan yang membaca tulisan ini kemungkinan besar juga pasti manusia, penulis hanya mencoba menuliskan apa yang ada dalam pemikiran dan tidak bertujuan apa-apa, karena ini adalah sebuah tulisan dan pemikiran yang masih mengalami perubahan, mungkin cukup sampai disini untuk yang pertama kali, jikalau ada yang belum bisa menangkap arti maka mohon dimaklumi karena ini masih bersifat abstrak (atau sengaja untuk diabstrakkan terlebih dahulu). Semoga ini menjadi seri tulisan Manusia.

Baca terusannya......

Selasa, 29 September 2009

Tersiksa Keinginan

Dalam beberapa masalah apa yang kita rasakan sebagai manusia adalah keinginan, dan terkadang tersiksa akan keinginan merupakan suatu keadaan yang sangat memalukan karena apa yang kita rasakan tidak baik diakibatkan sesuatu yang kita harapkan namun kedatangannya tidak juga kunjung tiba.

Harapan merupakan cahaya kehidupan manusia, namun adakalanya apa yang kita inginkan dalam dunia ini tidak akan pernah atau tidak mungkin untuk kita dapatkan. Manusia memiliki banyak-banyak-banyak sekali keinginan dan manusia adalah makhluk yang tidak akan pernah puas.

Keinginan boleh saja kita miliki namun seperti biasa apa saja yang kita harapkan tidak akan 100% akan sesuai dengan harapan. Pengharapan manusia terhadap dunia adalah salah satu kelemahan manusia dimana dalam kehidupan yang tidak pasti ini manusia selalu saja menginginkan agar dunia berjalan sesuai dengan kehendaknya. Nafsu adalah kodrat manusia, manusia memiliki keinginan terlepas dari apakah itu dipandang baik oleh batasan moral atau apakah itu buruk.

Manusia dan keinginan beserta mimpi-mimpinya terkadang menjadi penyemangat hidupnya, untuk meraih segala macam yang diinginkannya, entah ia seorang hedonis yang menginginkan kebahagiaan duniawi atau ia adalah seorang pertapa yang menginginkan kesenangan/ketenangan spiritual, yang jelas adalah semua itu berdasar dari keinginan itu sendiri. mungkin berbeda lagi dengan keinginan para teroris dimana mereka ingin negara adi-daya itu luluh lantah akibat bom mereka, atau para deermawan yang menginginkan bahwa di dunia tidak lagi boleh ada yang namanya kelaparan. Dan semua itu berawal dari keinginan.

Macam model isi kepala manusia itu adalah sebanyak jumlah kepala manusia itu sendiri, masing-masing dengan apa yang ia harapkan dan masing-masing dengan hambatannya sendiri-sendiri. proses manusia untuk mencapai apa yang ia inginkan ada yang menjadi sulit dan ada juga yang mudah, namun semua bersifat subjektif tergantung oleh mereka yang mengalaminya, mungkin ada seseorang yang terlihat oleh orang lain seperti tidak membutuhkan kerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan ada juga yang melihat bahwa ada seseorang yang harus bertaruh dengan nyawanya untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Namun itu pendangan bagi yang melihat dan bukan dari mereka yang menjalani, dimana dari mereka yang menjalani juga mengatakan hal yang berbeda-beda.

Terserah kepada manusia itu menjadikan apa dalam dunia ini sebagai tujuannya, tidak ada yang tahu apa yang diinginkan manusia hari ini dan hari esok dimana keduanya sering kali berubah terpengaruh oleh pengalaman baik secara fisik maupun mental terhadap dirinya. Intinya manusia adalah makhluk yang dapat dikatakan sulit untuk ditebak. Namun manusia hidup dengan ‘ingin’ didalam dirinya, entah apakah itu, namun tanpanya rasa-rasanya manusia tidak dapat hidup, entah mungkin hanya hal kecil dan sepele, seperti ingin melangkah satu langkah kedepan, atau mungkin ingin kekamar mandi dan lain-lain dimana ingin yang satu ini terkadang dikatakan ‘kehendak bebas’. Namun dalam berkehendak sendiri manusia terkadang tidak mendapatan apa yang diinginkannya, bukan tergantung pada seberapa besar keinginan yang ada dalam dirinya, melainkan manusia juga dibantu oleh keadaan, dimana keduanya cenderung bersinergi untuk memenuhi atau menggagalkan segala macam kehendak itu sendiri.

Dalam pemikiran penulis kehendak dan pendukung kehendak bukanlah memberikan peran sebanyak 50:50 melainkan tidak ada persentase jelas dari pengaruh keduanya terhadap hasil yang akan didapatkan, hal ini adalah bentuk dari pemikiran tentang adnaya faktor keberuntungan, dimana faktor tersebut rasa-rasanya merusak persangkaan kita terhadap sesuatu selalu dimanapun.

Para ilmuwan mengatakan bahwa keadaan dunia yang sebenarnya adalah chaos belaka, semua berjalan secara acak tanpa ada dapat suatu perhitungan menebaknya. Mereka mengatakan bahwa selalu saja ada kemungkinan walau sekecil apapun, karena keacakan itu sendiri yang berjalan dan tersebar secara tidak menentu. Namun bagi seorang agamawan yang percaya kepada tuhan lebih memilih untuk menyerahkan segala macam hal hanya kepada yang maha kuasa dimana tak ada sesuatupun yang tidak berada dibawah kehendak tuhan termasuk pada pemikiran manusia sekalipun.

Jadi ketika manusia berharap akan sesuatu pasti ada saja faktor yang mendukungnya dan juga ada faktor yang akan menghambat terlaksananya, hal ini terkadang tidak dapat diketahui oleh manusia atau disangka oleh manusia namun apa yang manusia lakukan dengan melakukan generalisasi terhadpa sesuatu dapat terbukti salah dan tidak tepat adanya dnegan kenyataan. Dengan demikian manusia hidup dalam ketidak pastian dalam dunianya sendiri dengan melakukan pengharapan 100% dimana kemungkina untuk dapat terlaksana tidak sesuai dengan pengharapan yang telah diberikan oleh dirinya.

Kemampuan manusia untuk menerka dan melihat dalam hal ini adalah dibutuhkan terlebih kemampuan intuitif manusia yang menggunakan perasaan dan juga logika secara bersamaan. Entah apa yang mereka inginkan terkadang ada yang sangat ditolong oleh keadaan, dalam hal ini keadaan yang tepat oleh orang yang tepat dimana keduanya saling mendukung untuk pemenuhan harapan terkadang dapat ditemukan, namun tetap saja hal terebut terlihat dan dirasakan oleh yang mengalami sebagai sesuatu yang tidak disangka-sangka, mengapa penulis berani mengatakan demikian adalah karena sifat manusia sendiri yang jarang bisa ditebak secara baik dan kedua adalah apa yang selalu penulis alami sehari-hari, walau terjadwal sekalipun namun penulis tidak pernah menyangka apa yang ada diesok hari pada hari sebelumnya, semua susunan rencana mungkin berjalan dengan baik, namun setiap detik yang terjadi didalamnya berada diluar kendali diri manusia.

Kecelakaan kah atau keberuntungan kah dapat terjadi kapan dan dimana saja, tanpa ada yang bisa mempredikisinya, atau mungkin terprediksi namun tidak berpengaruh kepada kenyataan. Hal-hal yang demikian adalah sebuah keadaannya nyata bahwa apa yang ada dihari esok masih belum tampak jelas bagi mata manusia. Berkaitan dengan masalah keinginannya manusia dituntut untuk menjadi pribadi yang luwes dalam menghadapi segala macam kemungkinan, entah apa yang akan ia alami dalam kehidupan ini entah akan menjadi menyedihkan berdasarkan standar seorang raja atau akan menjadi menyenangkan berdasarkan standar seorang bar-bar. Apa yang saja yang mereka harapkan diharapkan untuk melakukan tindakan sepenuh hati tenaga dan jiwa untuk mendapatkannya namun untuk hasil yang sempurna diharapkan manusia memiliki pemikiran tentang kemungknan dan juga suatu ketetapan dimana manusia belum mampu mengalahkan waktu.

Sehingga manusia hanya ingat akan hal berusaha, dimana manusia selalu berusaha dan mendapatkan balasan dari usahanya sesuai dengan apa yang ia kerjakan. Kesan dari kata yang sudah penulis sebutkan mungkin dalam hal ini sangat terdengar subjektif namun, dalam kenyataannya manusia dengan sejuta pengharapan yang sudah mengorbankan segala macam yang ia miliki tidak kunjung juga mendapatkan apa yang ia usahakan, namun apakah demikian adanya jika kita melihat dari apa yang sudah didapatkan oleh manusia tersebut didalam kepalanya, atau ternyata apa yang ia inginkan ternyata memang sudah berubah sama sekali dari apa yang ia inginkan dalam versi anda yang memperhatikan. Mungkin bisa saja sama dan mungkin bisa saja tidak.

Dalam hal keinginan manusia seharusnya selalu bersyukur karena masih saj kesempata bagaimanapun keadaannya, walau tidak selalu dan juga tidak selamanya demikian namun setidaknya kemampuan logika dasar manusia masih dapat dijadikan suatu landasan dalam memprediksi walau tidak ada data jelas dari berapa banyak kebenaran yang akan didapat, namun dengan berpikir jernih dan berharap dengan harapan yang berdampak jernih pada kehidupan maka menjadi manusia yang tidak memiliki harapan apa-apa sekalipun akan terasa sangat menyenangkan dan yang terpenting adalah tenang dengan tidak tersiksa dengan keinginan yang bukan-bukan.

*tulisan ini sangat terpengaruh oleh buku Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb

Baca terusannya......

Minggu, 23 Agustus 2009

Kenangan

Hidup dalam dunia ini sebagai manusia, entah apa yang akan terjadi didepan nanti, tidak ada yang mengetahui, apa yang kita rencanakan sekarang untuk esok hari, tidak ada yang mengetahui apakah akan terlaksana atau akan terbengkalai dan akan terjadi sesuatu yang lain diluar rencana kita. Yang jelas selama hidup penulis apa yang kita usahakan sekarang tidak pernah sebelumnya terbayangkan dalam benak penulis, bahwa semua akan menjadi seperti ini, walau itu harapan, tidak sesuai dengan yang dicita-citakan, satu sisi mereka menjadi lebih baik namun ada kalanya mereka tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Apa yang telah berlalu biarlah berlalu, mereka menjadi kenangan tersendiri yang ada dalam benak kita, manjadi keabadian yang tidak akan pernah kembali lagi. Kenangan indah atau kenangan buruk semua datang silih berganti, menyejukkan hati dan terkadang menyesakkan hati. Satu per satu, manusia, keadaan, kebencian dan kecintaan datang silih berganti, memenuhi ruang dalam kepala, dipikirkan dan diambil maknanya, ada kalanya memberikan pelajaran, namun tidak jarang juga yang malah menyesatkan. Ada yang bilang kalau kehidupan ini adalah sebuah proses, prose menuju jati diri yang abadi, yaitu kematian dan jadilah saja semua ini kenangan.

Detik yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi, semua yang telah dikenang akan tersimpan dalam memori yang tidak akan pernah dilupakan, entah masuk kedalam prasadar kita, atau mungkin masuk keadalam alam bawah sadar kita. Yang mana yang dimana? Yang mana kita ingat adalah kenangan manis dan kenangan buruk jarang sekali ingin kita ingat-ingat. Semua manusia tidak menginginkan untuk mengalami keburukan dalam kehidupannya, manusia tidak ingin ada kekurangan dalma kehidupannya, manusia ingin senang manusia ingin bahagia, namun manusia yang ingin mencapai tempat yang lebih tinggi haruslah melewati jalan yang tinggi dan curam ketika melihat kebawah.

Manusia yang kuat adalah manusia yang mau menerima apa yang ditawarkan kehidupan kepada diri mereka, bukan menerima dengan lapang namun menerima denga jati diri dimana mereka membentuknya sendiri, manusia yang kuat adalah manusia yang terbentuk oleh kerasnya alam, manusia yang tidak menginginkan adanya kemelut didalam dirinya, manusia yang mau merdeka, menjalankan apa yang mereka inginkan sesuai dengan tuntutan jiwanya, tuntutan dari hatinya, panggilan dari ruh terdalam yang bersemayam didalam tubuh mereka.

Manusia boleh saja secara sadar mengatakan kalau diri mereka ingin sekali menjauhi rasa sakit, namun apa boleh buat ternyata rasa sakit sangatlah baik bagi diri mereka. Apa yang mereka harapkan, apa yang menjadi tujuan dan cita-cita mereka tidak akan dengan mudah didapat, walau ada sebagian yang mendapatkannya dengan cara yang dikatakan mudah oleh manusia lainnya. Ketidak-abadian manusia adalah ciri dari kesempurnaan mereka, dimana mereka mengetahui ketidak-abadian melekat pada diri mereka, namun mereka berjalan lenggak-lenggok didunia ini bagai untuk selama-lamanya. Proses manusia dalam membutakan dirinya dari ketidak-abadian dirinya dapat tercermin dari perilaku kita sehari-hari.

Kesempurnaan yang mereka harapkan pada akhirnya hanya akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah diingat oleh sesiapapun juga, mereka hilang didalam tanah dan air, mereka menjadi jasad renik yang dikembalikan kepada alam. Manusia dan kehidupan adalah dua sisi mata uang, dimana manusia dan kehidupan selalu bertolak belakang, yang satu berjalan maju dan yang satu berjalan mundur, dalam artian yang terlalu mendalam ini sangat sulit untuk dirasakan oleh manusia, karena terlahir sebagai manusia dan berjalan menjadi alam, dikatakanlah hal tersebut sebagai mundur, sedangkan kehidupan dimana planet ini dan segala teman-teman sebangsa planet lainnya berjalan maju. Berjalan maju dalam pola pikir manusia, walau sebenarnya keseluruhannya menuju suatu titik yang berpusat entah pada apa.

Biarlah tulisan ini menjadi pemikiran tersendiri bagi penulis, penulis hanya mencari jawaban dari pembodohan secara sadar yang penulis lakukan terhadapa diri penulis sendiri, dimana diri dan jiwa mulai mengalami yang dinamakan ketidak serasian, kedaan biasa yang akan terlewati dengan usaha yang keras dan juga usaha yang mendalam, karena apapun yang akan terjadi maka akan terjadi, jikalau kita mengatahui maka kita akn mengubah sesuai dengan harapan kita, namun keberuntungan kita untuk tidak mengetahui apa yang akan terjadi adalah dimana kita memiliki harapan apapun didepan nanti, dengan perjuangan dan semangat, dengan kemauan dan juga keikhlasan, dengan kesabaran dan juga pengorbanan. Atas semua ini mari kita mengharapkan kemenangan, agar menjadi kenangan yang indah, agar menjadi kenangan yang memberikan pelajaran, walau akan berubah bentuk dalam wujud yang tidak orisinil lagi karena distorsi pemahaman yang ada didalam diri setiap manusia.

Baca terusannya......

Sabtu, 22 Agustus 2009

Kegelapan

Kegelapan, tidak ada cahaya sama sekali, dimana manusia tidak dapat melihat, dimana manusia tidak mengetahui apapun itu, dimana manusia tidak menyukai hal tersebut. kegelapan identik dengan malam hari dimana manusia dan juga makhluk kebanyakan melakukan aktifitas tidur. Kegelapan dimuka bumi adalah saat matahari berada pada sisi yang lain, tidak ada cahaya dan dingin.

Dalam tulisan ini penulis hanya ingin menggambarkan apa itu gelap dari sudut pandang penulis sendiri. kalau pembaca berniat membacanya maka bacalah dan ambil kesimpulan sendiri, tidak ada tuntutan dalam memberikan sangkaan dan juga kekecewaan, atau mungkin untuk memberikan pujian, semua tidak akan penulis hiraukan sama sekali bahkan kalau itu sebuah masukan sekalipun, karena ketidak-perdulian adalah ketidaktahuan dan ketidaktahuan akan tetap menyembunyikan diri penulis menjadi manusia yang bebas dalam berekspresi.

Kegelapan dan juga malam hari, tidak adanya cahaya menjadikan mata tidak dapat melihat, karena mata sendiri membutuhkan cahaya untuk melihat. Terkadang kita merasa takut untuk berada dalam kegelapan, hal ini menurut penulis terjadi karena pengelihatan itu tadi, dimana manusia tidak dapat mengetahui dimana dan akan kemana jalan yang benar, manusia merasakan takut akan ketidak pastian dalam hidupnya, mereka mengandalkan mata dan nalar mereka, manusia adalah makhluk yang memiliki akal, itulah yang menjadikan mereka berbeda dari makhluk-makhluk lainnya dimuka bumi ini.

Kegelapan selain pada malam hari juga dapat ditemukan pada siang hari yaitu kala kita berada pada suatu tempat dimana tidak terdapat sinar matahari, pada jaman dahulu sebelum adanya listrik sebagai penerangan manusia menggunakan api sebagai penangkal kegelapan, manusia membutuhkan cahaya, manusia tidak menyukai kegelapan itu karena manusia membutuhkan pengelihatan dimana hal tersebut sangat bergantung pada cahaya. Bawah tanah merupakan salah satu tempat gelap lainnya, selain muka bumi saat siang hari.

Entah apa yang penulis ceritakan tentang kegelapan ini, namun ada satu inti dari semuanya mengenai kegelapan itu sendiri. kegelapan dari kacamata penulis adalah bentuk dari kekosongan yang sangat dimana dari kegelapan itu adalah ketiadaan, sesuatu ada terlihat oleh manusia selain oleh bentuk adalah juga karena adanya cahaya yang dipantulkan dan ditangkap oleh indera pengelihatan manusia.

Kegelapan adalah dimana manusia tidak merasakan keberadaan dirinya sendiri, mungkin ia dapat merasakan nafasnya, merasakan keberadaan anggota badannya namun dirinya tidak dapat melihat keberadaan dirinya sendiri, sama seperti seseorang yang buta, kehilangan pengelihatannya dan menggunakan panca indera lain sebagai pengelihatannya.

Manusia dan kegelapan adalah satu kesatuan, setiap hari manusia mengalami kegelapan itu sendiri, bukan saat tidur dan juga bukan saat malam melainkan ketika manusia berkedip, ketika manusia kehilangan sepersekian detik dalam kedipan matanya, saat itu kegelapan mereka rasakan, walau sekejap namun gelap dan penuh dengan misteri.

Baca terusannya......

Minggu, 26 Juli 2009

Rasa Senang

Ada ketakutan dalam diri penulis dalam merasakan rasa senang, yaitu lupa daratan. Dalam kesempatan ini hanya ingin mengingatkan diri sendiri tentang rasa senang yang membawa kita pada tempat yang cenderung berbahaya. Dimana kita semua tahu bahwa terkadang lupa akan daratan dan kesombongan adalah penyakit hati. Penyakit itu terjadi akibat diri kita yang terlalu terlena dengan keadaan diri kita, kebahagiaan dan juga perasaan hebat yang dialami oleh diri sendiri.

Kaitan dalam hal ini adalah masalah ketuhanan, agama, dan juga hati. Penulis adalah seseorang yang percaya akan kehadiran Tuhan, sudah tidak dapat dipungkiri, bahkan ilmu pengetahuan modern pun meyakini bahwa segala sesuatunya merupakan hasil rancangan dan bukan merupakan hasil “Chaos” belaka. Ketika diri ini menjadi terlupa akan keberadaan dan sejati diri kita maka yang akan terjadi adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, dikatakan tidak menyenangkan karena pada kesempatan tersebut manusia berada jauh dari mengingat kebesaran sang maha kuasa dan terlena dalam kemaha-besaran diri sendiri.

Terkadang manusia menjadi seperti memiliki segalanya, terlena dalam kesenangan dan kebanggaan atas diri sendiri, sedangkan tubuh masih bergantung entah pada air, udara, gravitasi orang lain dan segala macam kebergantungan manusia. Perasaan hebat diri akan keberadaan diri sendiri hingga mengakui bahwa segala yang terjadi adalah hasil dari kehebatan sendiri, bukan dari orang lain dan bukan dari pihak lain, murni dari diri sendiri.

kedaan seperti ini cenderung membutakan entah oleh siapa, mungkin oleh iblis, atau karena lemahnya diri, menjadikan kita terlupa, dari yang tadinya tahu menjadi tidak tahu, sungguh tak ada kendali diri kita atas pikiran kita sendiri. sedangkan dalam keadaan ini manusia menjadi sangat tidak mengerti tentang dirinya sendiri, dari mana asalnya dan akan kemana dirinya, yang ada adalah: “sekarang aku menciptakan diriku dan semua keadaan ini sendirian”.

Rasa senang yang baik bagi penulis adalah ketika perasaan itu muncul kedalam diri kita dan kita tidak melupakan penyebab terjadinya, dengan kata lain adalah bersyukur. Syukur dalam kamus bahasa Indonesia berarti rasa terima kasih kepada Tuhan. Tuhan sendiri dalam kamus bahasa Indonesia berarti yang diyakini manusia sebagai Yang Maha Kuasa. Berarti dalam rasa syukur berisikan rasa terima kasih kepada yang menyebabkan, karena ada kekuatan yang mengendalikan kita, menjadikan kita seperti ini, yang membuat kita berpikir tentang kebebasan kita dalam bertindak.

Dengan adanya rasa syukur dalam keadaan senang seperti apapun maka akan membuat diri tetap terkendali, tidak terlontar jauh dari jalan yang benar menurut hati nurani kita, tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari dan juga tidak membawa kita pada suatu keadaan terlupa akan kebesaran yang maha kuasa. Dengan bersyukur akan menciptakan pengendalian diri yang baik, jauh dari naik turun yang terlalu drastis dan juga kemampuan dalam melihat kesalahan diri sendiri yang akan berujung pada pengembangan diri kearah yang lebih baik.

Ada cobaan yang terkadang terlihat tidak seperti halnya cobaan, terkadang seseorang tidak dicoba dnegan suatu kesulitan dalam takaran hedonis, seperti kemiskinan, kekurangan, kebodohan dan juga kesakitan. Namun ada ujian dikala kita merasa senang dan juga bahagia, dalam keadaan itu kita diuji untuk berperilaku tidak berlebihan dan juga larut dalam kesombongan. Kebodohan adalah awal dari kecelakaan dimana diri menjadi tidak mengetahui lagi apa arti dari yang dilakukan, kehilangan makna dan juga kehilangan arah. Selain itu lupa, yang mana terjadi akibat tidak pernah dilakukan kembali, ada yang membenarkan dan memaklumi keadaan lupa, namun apa yang menjadikan hal itu? Tidak ada yang tahu, maka berlindunglah kepada yang maha kuasa dari keadaan lupa tersebut.

Baca terusannya......

Sabtu, 13 Juni 2009

Rindu

Rindu adalah sebuah perasaan didalam diri manusia, perasaan ingin menemui atau merasakan suatu sensasi yang sebelumnya pernah ia rasakan, entah itu hanya sekali atau mungkin telah berkali-kali, namun pada suatu rentang individu tersebut tidak lagi mendapatkan perasaan tersebut sehingga apa yang pernah ia rasakan terasa ingin sekali untuk dirasakan kembali. Rindu dengan kata lain yang populer adalah kangen sering kali menjadi suatu tema dalam penulisan lirik lagu dan juga penulisan segala macam cerita, suatu tema yang sangat disukai oleh manusia dan juga suatu tema yang sering mengganggu dalam kehidupan manusia.

Perasaan adalah sesuatu atribut tersendiri yang berada pada “perangkat lunak” manusia, berada berdampingan dengan pikiran yang terletak didalam kepala manusia. Dari perasaanlah rindu itu berasal dan bukanlah dari pikiran dikarenakan dalam pemikiran sendiri apa yang dialami manusia dapat saja dikelabui oleh diri sendiri. rindu adalah suatu fenomena tersendiri dalam diri manusia. Untuk beberapa contoh tentang rindu terkadang dapat disebut rindu terhadap seseorang yang kita sayang, lalu rindu akan kampung halaman, rindu akan Tuhan dan juga rindu terhadap hal-hal lain yang cenderung merupakan suatu keadaan yang berbentuk sensasi kebahagiaan.

Secara subjektif terkadang ada manusia yang merasa sangat terganggu dengan perasaan rindu yang ia miliki, bahkan karena terlalu mengganggunya maka apa yang mereka rasakan dapat berakibat buruk terhadap diri mereka sendiri, apa yang mereka rasakan karena tidak terpenuhi secara baik sehingga menuntut perasaan diri akan pemenuhannya yang sudah tidak dapat terbendung kembali, sedangkan apa yang mereka miliki pada saat sebelum pemenuhan itu adalah suatu bentuk dorongan/hasrat yang cenderung bersifat menggebu-gebu, mendorong pada arah yang cenderung negatif jika tidak terpenuhi dengan sebagai mestinya. Namun hal ni dapat menjadi negatif jika pada diri seseorang tidak dilengkapi dengan pengendalian diri yang baik, yang mengakibatkan diri dapat terlena dalam pahitnya rasa rindu.

Pengendalian diri dan juga pengenalan diri yang baik pada diri manusia jelas sangat membantu bagi seseorang dalam menghadapi arus kehidupan yang terkadang membawa manusia kedalam kedaan yang tidak menentu, mungkin mengalami apa yang namanya sedih dan mungkin juga dalam keadaan gembira yang selalu datang silih berganti. Terkadang ada orang-orang yang menggunakan hal-hal positif guna menjadi suatu bentuk penawar bagi rasa rindu yang ia rasakan, namun tidak semua individu memiliki keadaan dan kemampuan yang sama dalam menghadapi apa yang ia rasakan.

Jika saja apa yang sudah dirasakan oleh seseorang sudah menjadi suatu bentuk siksaan tersendiri maka dapat menjurus pada sesuatu yang tidak membuahkan kebaikan sedangkan jika apa yang dirasakan pahit oleh seseorang dapat mengarahkannya pada keadaan yang lebih baik maka berarti ia telah berhasil menggunakan rasa pahit sebagai bentuk pelajaran yang berharga, membuatnya menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu, menjadikannya pribadi yang terasah dan handal untuk menghadapi ketidakpastian hidup dalam dunia yang sementara ini.

Demikian juga jika rasa rindu sudah sedemikian rupa mengganggunya bagi seseorang, tidak hanya rasa rindu itu akan menjadi sangat manis jika dapat terpenuhi, namun kesabaran yang ia miliki akan membentuk mentalitas yang tahan akan ujian. Walaupun mungkin juga rasa rindu tersebut tidak terpenuhi maka yang ia rasakan adalah kepasrahan dimana dirinya memiliki kerelaan yang baik dalam menjadi makhluk kecil didalam jagad raya yang teramat luas ini. Daya tahan dan kesabaran jelas menjadi kunci dalam bertahan dalam kehidupan, dan untuk mendorong roda kehidupan itu sendiri adalah dengan menggunakan keuletan yang diimbangi dengan tata krama dalam berperilaku, berdasarkan hati nurani yang bersih dalam menjalankannya. Sehingga ketika seseorang menggunakan perasaan terdalam yang ia yakini dalam mengarungi kehidupan ini akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati, karena apa yang sebenarnya dirindukan telah didapati dengan melakukan kebaikan-kebaikan yang bersifat hakiki.

Rindu bukanlah suatu bentuk siksaan bagi mereka yang mau untuk belajar, namun lebih sebagai suatu alat penguat diri yang berfungsi bagaikan obat pahit yang berakibat menyehatkan diri. Jelas, sesakit apapun yang akan dan pernah kita rasakan selama ini lebih akan menjadi rasa yang manis jika kita mampu mengambil pelajaran dan juga pengetahuan untuk bekal kita dalam perjalanan kehidupan ini dikemudian hari ingatlah, waktu selalu berjalan kedepan, apa yang kita tanam diwaktu yang lalu akan kita tuai pada waktu yang akan datang, tidak ada yang dapat mengembalikan waktu karena apa yang telah terjadi dahulu, apa yang sedang kita lakukan sekarang dan apa yang akan terjadi dikemudian hari adalah satukesatuan yang tidak mungkin dapat untuk dipisahkan.

Baca terusannya......

share

hidup itu adalah suatu kesementaraan dimana kita yang berada didalamnya hanya bisa merasa takjub tanpa henti merasakan keajaiban dari hidup itu sendiri, namun terkadang sesuatu yang terjadi dengan baik tidak terlihat seperti apa yang istimewa, dengan apa yang kita miliki dan kita rasakan maka cobalah untuk memikirkan mengapa semua ini terjadi dan menjadi seperti ini.