Sabtu, 23 Januari 2010

Telaah Sosio-Kultural Lagu The Brews Dari NOFX

Kali ini penulis sedang menyempatkan diri untuk menelaah salah satu lagu favorit penulis, judulnya The Brews dari NOFX, lagu ini sering sekali saya dendangkan dalam segala macam keadaan, pertama sih karena unsur kata Oi! yang sering sekali diucapkan didalamnya, salam ala punk yang disosialisasikan oleh para buruh Inggris sekitar tahun 1970an, suatu bentuk budaya perlawanan dan juga sub-culture. Sejak dulu memang lagu ini memberi pengartian yang lain, tapi entah apakah para pembaca mengetahuinya, disini yang dipakai adalah budaya punk dalam masyarakat Yahudi, walau hanya secara imajinasi saja, dan secara apik dilantunkan oleh NOFX.

Entah apa tujuannya, apakah menghina atau mungkin hanya untuk lucu-lucuan saja namun memang lucu sih, masalahnya semua menceritakan tentang terjadi persilangan budaya antara skinhead, punk dan budaya minoritas kaum Yahudi itu sendiri. Budaya Yahudi termasuk salah satu budaya tua di dunia, dipertahankan dari generasi ke generasi, kelebihan mereka adalah mereka menganggap diri mereka sebagai masyarakat pilihan Tuhan, sebagaimana diterangkan oleh kitab-kitab suci yang ada sekarang. NOFX sendiri memiliki dua personil Yahudi pada saat lagu ini ditulis, jadi kemungkinan mereka tidak bertujuan menghina, namun mereka lebih menunjukkan kepada pemberontakan anak muda dengan gaya punk dan skinhead pada salah satu budaya saja.



Lirik The Brews adalah sebagai berikut:

Friday night we'll be drinking Manishevitz
Going out to terrorize Goyem
Stomping shagitz, screwing shicksas
As long as we're home by Saturday morning

Cause hey, we're the Brews
Sporting anti-swastika tattoos
Oi Oi we're the boys
Orthodox, hesidic, O.G. Ois

Orthopedic, Dr. Martins good for
Waffle making, kicking through the shin
Reputation, gained through intimidation
Pacifism no longer tradition

Cause hey we're the Brews
Sporting anti-swastika tattoos
Oi Oi we're the Brews
The fairfax ghetto boys skinhead Hebrews

We got the might, psycho mashuganas
We can't lose a fight, as we are the chosen ones
Chutspah driven, we battle then we feast
We celebrate, we'll separate our milkplates from our meat

We're the Brews
Sporting anti-swastika tattoos
Oi Oi we're the boys
Orthodox, hesidic, O.G. Ois

Yeah! Lihat kata-katanya, banyak yang bukan bahasa Inggris tapi bahasa keseharian masyrakat Hebrews. Ok, mari kita bahas perbait saja biar makin seru, bait pertama Friday night we'll be drinking Manishevitz, Manishevitz adalah sebutan minuman keras murah yang biasa diminum oleh masyarakat Yahudi yang gemar mabuk, walau ajaran asli mereka sendiri melarang untuk meminum alkohol. Mengapa Jum’at malam adalah karena hari suci mereka adalah hari Sabtu, dan pada malam itu seperti “malam minggu”. Going out to terrorize Goyem, pada bagian ini memang terasa lucu sekali, jadi mereka mabuk dan keluar untuk melakukan terror kepada Goim, Goim sendiri adalah sebutan orang Yahudi kepada Non-Yahudi, dimana ketika ditelaah secara harfiah maka Goim sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu yang bukan manusia, ya, memang sudah terkenal kalau bangsa Yahudi itu sendiri memandang rendah semua orang yang bukan bangsanya. Stomping shagitz, screwing shicksas, ditekankan kembali pada bagian ini, mereka keluar memukuli orang laki-laki non-Yahudi (shagitz) dan mengganggu perempuan non-Yahudi (shicksas). As long as we're home by Saturday morning, walau mereka Punk dan Skinhead tapi mereka tetap taat pada peraturan kepercayaan mereka, mereka akan tetap pulang pada Sabtu pagi dan pergi ke Sinagog (rumah ibadah Yahudi) kemudian.

Cause hey, we're the Brews Sporting anti-swastika tattoos, budaya Yahudi mengharamkan tatto, mereka dalam lagu ini sebagai kaum Punk pemberontak dan juga Skinhead yang brutal mendukung adanya tatto lambang anti-swastika, sebagaimana swastika adalah lambang dari gerakan Nazi Jerman, dimana pada saat itu dilaporkan bahwa terdapat jutaan orang Yahudi yang di bantai dalam peristiwa Hollocaust, dan menjadikan Hitler sebagai salah satu penjahat kemanusiaan terbesar. Oi Oi we're the Brews The fairfax ghetto boys skinhead Hebrews, Oi! Selain dikenal sebagai seruan kaum buruh di Inggris pada era 1970-an juga dikenal dalam masyarakat Yahudi sebagai seruan seperti “Ouch!” dalam bahasa Inggris atau “Aw!” dalam bahasa Indonesia. The Brews dalam lagu ini mengartikan Hebrew, atau masyarakat Yahudi. Fairfax sendiri adalah daerah yang di kenal di Los Angles sebagai pemukiman kaum Yahudi Ortodoks, Ghetto adalah pemukiman kaum minoritas, namun lebih kepada kaum Yahudi dimana saja. Oi Oi we're the boys Orthodox, hesidic, O.G. Ois, disini dimantapkan bahwa mereka adalah masih menganut kepercayaan dan budaya mereka dengan sangat baik.

Dr.Martin sebagai merk sepatu boot yang biasa dipakai oleh penganut Punk, Yup, tergantung bagaimana melihatnya antara Punk secara politik, gaya hidup atau suatu jalan hidup, atau hanya fashion sesaat saja di antara anak-anak muda. Sepatu Dr.Martin memiliki permukaan bawah yang mirip untuk mencetak waffle, jadi dikatakan demikian dalam lirik tersebut. Kemudian dilanjutkan, Reputasi mereka adalah mendapat keuntungan dari intimidasi, sebagaimana biasa terjadi pada masyarakat minoritas, namun pada kaum Yahudi intimidasi yang mereka terima sangat berbeda, karena mereka dianggap racun tersendiri bagi masyarakat, sebagai contoh adalah tindakan Nazi Jerman yang membantai habis mereka. Mereka juga terkenal bukan masyarakat yang mencintai damai, hal ini terjadi karena mereka adalah para pejuang yang mencari tanahnya sendiri, mereka mau berdamai jika hal itu memberikan keuntungan bagi pihak mereka.

We got the might, psycho mashuganas We can't lose a fight, as we are the chosen ones, mashuganas adalah bentuk dari ungkapan Yahudi kepada seseorang yang gila dan aneh, namun menjurus pada sesuatu yang tidak baik, dalam budaya Punk menjadi gila dan kejam rasanya adalah suatu pujian dan juga sanjungan. Mereka mengatakan kalau mereka tidak mungkin kalah dalam pertarungan kerena mereka yakin bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan, seperti tertulis dalam kitab-kitab suci yang ada sekarang, walau beberapa umat menyangkal, namun mereka mengakui hal tersebut secara benar, karena mereka yakin bahwa hanya leluhur mereka yang telah diambil sumpah oleh tuhan dibawah gunung Sinai pada jaman nabi Musa. Chutspah driven, we battle then we feast We celebrate, we'll separate our milkplates from our meat, pada bagian ini terdapat pemisahan antara daging dan susu, dalam budaya makan Yahudi diharamkan untuk mencampur antara daging dengan susu, bahkan sampai kepada penggunaan piring dan gelas mereka akan dipisahkan mana untuk yang susu dan mana untuk yang daging dan makanan dari bahan yang lain, ajaran ini biasa dikenal dengan Kosher.

Dari keseluruhan lagu ini sebenarnya ditujukan untuk menghina para Nazi Punk yang pernah berkeliaran dan melakukan tindakan rasisme terhadap sesama Punk dan Skinhead. Mereka menyerukan rasisme, dan kebencian terhadap kaum minoritas, seperti Negro, Yahudi dan lainnya, bahkan kepada para anti-rasis yang jelas sebagai lawan filosofi mereka, sebagai mana Nazi Jerman, mereka selalu meninggikan ras arya, kaum kulit putih eropa. Tindakan rasis mereka sangat mengotori budaya punk yang ada pada masa itu. Namun dari hasil penelusuran gerakan-gerakan neo-Nazi masih saja banyak tersebar. Itulah fokus utama dalam lagu ini, yaitu tentang masuknya Punk kedalam segala jenis kebudayaan.

Penulis sendiri bukanlah seorang penganut Punk, atau setidaknya bukan Punk yang menjadi gaya hidup kaum urban, namun lebih kepada filosofi kebebasannya, bukan kepada kebebasan dalam bertindak melainkan kebebasan dalam berkarya. Bagi penulis Punk adalah paham kebebasan yang dimana seseorang sudah dapat membebaskan dirinya sendiri dari bertindak salah, atau sudah mampu memilih kesalahan apa yang akan ia lakukan, bukan kebebasan yang tanpa pembatasan dan tanggung jawab, namun punk sebagai kebebasan manusia dari peraturan luar dirinya karena ia sudah memiliki kemampuan mengendalikan diri yang tinggi dari dalam dirinya sendiri. Namun sekali lagi ini Punk, maka cari saja pengartiannya menurut hati nurani kalian sendiri.

*tulisan ini tertulis sambil mengingat-ingat konser NOFX di Jakarta beberapa tahun lalu*

Baca terusannya......

Senin, 18 Januari 2010

Ketika Ide Itu Sendiri Bukanlah Milik Saya

Ketika Ide itu sendiri bukanlah berasal dari diri sendiri, karena muncul pertanyaan mengapa mereka (Ide) tidak muncul ketika saya menginginkannya dengan sengaja denga kemauan diri sendiri dengan apa yang mereka sebut itu sebagai freewill (kehendak bebas). Free will dalam dunia ini benarkah ada ataukah memang saya hanya menjalani tanpa pernah memiliki pilihan untuk memilih dan saya merasa sudah memilih untuk karena semua hanya semu.

Perkara ini muncul ketika beberapa saat ingin menulis, aktifitas blogging yang menyenangkan terkadang terhambat oleh tidak diperolehnya ide untuk menulis, entah pembahasan yang sedang tidak seru untuk dibahas atau keinginan untuk menulis yang sekejap menghilang. Dari keadaan itu maka disadari sedikit masukan bahwa kemauan dan ide itu sendiri adalah anugrah, penulis pribadi tidak mampu menyusun kapan tibanya mereka untuk di dapat dan apa yang akan di bahas nantinya masihlah belum terbayang pada saat ini.

Ketika mencoba untuk membayangkan dan terus membayangkan mencari dan terus mencari ternyata semua di dapat dengan usaha, namun yang berbeda tingkatannya pada setiap manusia, terkadang kita terheran ketika seseorang melakukan hal yang hebat, sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh kita untuk melakukan hal yang dalam pandanga kita hebat tersebut, namun benarkah ia mendapatkannya dengan hasil usahanya atau ia tercerahkan dengan dalam waktu sesaat bersamaan dengan kemauannya untuk melakukannya?

Banyak sekali misteri di dalam otak manusia, mulai dari apa yang dijelaskan oleh Freud tentang kesadaran itu sendiri dimana menurutnya terbagi dalam tiga tingkatan, yang pertama kesadaran, pra-sadar dan bawah sadar. Dianalogikan oleh Freud dengan gunung es dilautan, dimana pada bagian atas yang mencuat kepermukaan hanyalah sebagian kecil dan bagian itu adalah untuk menggambarkan area kesadaran, sedangkan pada bagian tengah yang merupakan bagian yang lebih besar dari bagian atas adalah area pra-sadar, dimana pada area tersebut terdapat berbagai macam ingatan yang mampu di ingat kembali oleh seseorang. Bagian terakhir, yaitu bawah sadar dimana didalamnya berisikan berbagai macam ingatan yang pernah dimiliki manusia, walau tidak/sulit untuk dapat di ingat kembali namun masih tersimpan di sana. Ketiganya memiliki keterkaitan satu sama lain dan menciptakan apa yang disebut dorongan-dorongan, melakukan interaksi dari yang sedang terjadi dan yang telah terjadi.

Mari kita tinggalkan dulu teori-teori psikologi, intinya pada saat ini adalah mengapa terkadang ide tidak ada saat dibutuhkan? apakah sudah terlalu malas manusianya sehingga otaknya membeku dan tidak mampu melakukan pembahasan apapun dalam pikirannya? atau manusia yang sedang kehilangan gairah dalam hal pemikiran ataukah manusia yang sedang mengalami gangguan mood, sehingga apa yang mereka lakukan sangat bergantung pada suasana hati mereka?

Mungkin ada baiknya jika kita selalu mencatat segala macam yang kita pikirkan, entah dalam buku catatan harian atau juga blog, dengan demikian segala yang pernah tersirat dalam pikiran kita akan dapat dilihat kembali jika dibutuhkan. Ide adalah sesuatu yang berharga, maka jangan dimaknai dengan rendah. Dalam satu hari seseorang mampu menghasilkan banyak sekali ide orisinil dan jangan sampai semua itu lenyap hanya manjadi sesuatu yang pernah tersirat saja, terlupa, masuk kedalam alam bawah sadar dan sulit sekali untuk dikenali untuk di panggil kembali.

Penulis sendiri masih merasa asing dengan yang namanya ide itu sendiri, contoh seperti pada awal penulisan tulisan ini, semua adalah akibat dari tidak adanya ide penulis dalam menulis, sehingga penulis mengambil tema tentang ide, dengan pertanyaan mengapa ide-ide itu terkadang muncul dan terkadang tidak ada sama sekali, maka dimulai dengan sesuatu pertanyaan dan dijawab dengan segala macam bentuk pengalaman penulis saja, dan bersyukur ternyata dari ketidak-adaan ide itu sendiri dapat menjadi sebuah bahan perbincangan dalam diri penulis sendiri. Bagi penulis sendiri jika diri ini sedang dilimpahi dengan berbagai macam pemikiran maka ada baiknya mengikat semua itu dengan menuliskannya, sedangkan untuk keadaannya sendiri ada baiknya jika dapat kita ikat dengan rasa bersyukur.

Baca terusannya......

Kamis, 07 Januari 2010

Kesombongan Adalah Hal Terbodoh

Kesombongan, saat dimana kita merasa, ingat hanya merasa, dan yakin bahwa diri ini berada pada puncak dunia, dimana kita memandang rendah orang-orang lain yang ada disekitar kita dan mengatakan dengan lantang bahwa diri kita adalah hebat, dan secara keseluruhan kehebatan yang kita miliki adalah murni 100% hasil dari diri kita sendiri.

Selain itu kesombongan adalah perasaan dimana diri merasa paling benar, benar sebenar-benarnya, tak ada salah dan cacat, serba sempurna dan jauh dari keburukan. Keadaan palign “wah” dalam diri yang sebenarnya adalah bentuk dari kebodohan kita yang paling tinggi, bentuk dari ketidak-tahuan kita yang paling menyeramkan, keadaan kita yang paling rendah-se-rendah-rendah-nya.

Mengapa dikatakan demikian adalah karena manusia seharusnya sadar akan apa yang ada disekelilingnya, menjauhi rasa tertinggi dari dirinya, dikarenakan manusia adalah makhluk yang lemah, makhluk yang bergantung pada alam, makhluk yang membutuhkan asupan energi untuk hidup dan makhluk yang tidak bersifat abadi.

Selain itu manusia adalah makhluk sosial, dengan artian manusia membutuhkan manusia lainnya. Manusia harus menyadari bahwa jagad raya lebih luas daripada apa yang mereka pikirkan, manusia harus melihat bintang, langit, bumi, dan segala macam yang ada disekitarnya guna menyadari, dimanakah dirinya berada dan apakah hakikat keberadaannya.

Yang jelas seorang manusia tidak dibenarkan untuk menyombongkan diri walau hanya sedikit sekalipun, karena hal tersebut termasuk dalam sifat yang menghancurkan diri sendiri, dimana diri kehilangan kendalinya, kehilangan keyakinannya, melakukan suatu usaha penyelamatan diri dengan metode yang sebaliknya, menghancurkan diri, dengan membentuk kepercayaan yang salah didalam kepala, irasionalitas dan condong pada bentuk delusi.

Manusia adalah makhluk yang rapuh, tidak luput dari melakukan kesalahan, namun manusia sendiri melakukan pembenaran, tidak mengakui kesalahan dan tidak melakukan perbaikan. Manusia dengan batasan yang wajar, batas wajar itu sendiri ternyata sangat berbeda antara satu manusia dengan manusia yang lain. batasan itu cenderung terbentuk dari dalam lingkungan manusia, dimana ia tinggal dan dimana ia melakukan aktivitas, dipelajari dan merupakan buah pikir manusia itu sendiri.

Dengan menjadi diri sendiri dan menggali kecendrungan hati yang sebenarnya maka manusia akan menemukan apa yang menjadi fokus utama dalam kehidupannya, sehingga batasan-batasan dalam kehidupannya menjadi jelas dan dengan berjalannya waktu membimbing manusia tersebut dalam jalurnya sendiri.

Manusia yang sombong adalah manusia yang melupakan segala macam potensi yang ada dalam dirinya, kesombongan cenderung membuat seseorang tidak mau berusaha lagi, melihat semuanya sudah sangat hebat, melihat semuanya sudah sangat sempurna, merasa sudah tidak ada lagi yang perlu diperbaiki, sehingga kebenaran seakan hanya milik diri sendiri.

Menghilangkan kesombongan dalam diri memang tidaklah mudah terkadang mereka timbul dari dalam hati, berupa pujian-pujian terhadap diri sendiri yang sudah terlalu terlewat batas, terlewat batas karena ketidaktahuan, suatu upaya menutup-tutupi, membohongi diri sendiri. pengakuan yang tidak wajar dan memiliki unsur-unsur pemujaan.

Kesombongan membuat manusia tidak berkembang, selain karena perasaan yang menunjukkan keadaan yang sudah terlampau hebat, ada lagi yaitu keadaan dimana manusia sudah tertutup kesempatannya untuk menjadi lebih dari apa yang sudah ada sekarang. Kesombongan membuat manusia bukan hanya dibenci oleh manusia lain, ia juga akan menjadikan manusia tersebut dibenci oleh dirinya sendiri.

Hancurnya dunia orang sombong adalah ketika manusia itu mengetahui kebenaran, semua terasa seperti kiamat, semua terasa seperti berakhir, itulah manusia yang sombong, mereka besar kepala dan melupakan dari mana ia berasal, dan dari mana semua yang ia telah peroleh berasal.

Jebakan kesombongan dapat kita minimalisir yaitu dengan mensyukuri apa yang telah kita raih, kemudian dengan meyakini akan keberadaan Tuhan, dimana ada yang lebih berkuasa dari diri kita, sesuatu yang maha kuasa dan maha pencipta, yang menciptakan diri kita dan memberikan kebaikan kepada kita, jadi kita tidak akan menyangka bahwa semua ini adalah hasil dari jerih payah kita, namun lebih kepada hasil dari karunia nyata yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita.

Segala nikmat yang kita peroleh akan menjadi lebih nikmat rasanya jika kita mensyukuri, kita berterimakasih, dan merasa senang dengan “pemberian” itu kepada Tuhan. Faktor-faktor ketuhanan adalah keadaan yang lebih baik dari diri kita, bukan sebagai tempat akhir untuk disebut ketika kita tak mampu menjawab namun lebih kepada keyakinan bahwa banyak hal yang berada dalam luar jangkauan kita.

Siapalah kita makhluk lemah disuatu planet yang kecil, berada disusunan galaxi, tersebar dan penuh dengan ketidaktahuan.

Baca terusannya......

Minggu, 11 Oktober 2009

Ketika Membenci

Terkadang ada saja perilaku yang membuat kita benci terhadap orang lain yang ada dalam kehidupan kita, entah dari mana asalnya yang jelas terjadi perbenturan antara diri kita dengan orang tersebut. rasa tidak suka menjadikan kita melihat segala aspek yang menyangkut dengan diri orang tersebut adalah buruk adanya secara keseluruhan dan tanpa kecuali. Namun benarkah perasaan itu bagi diri kita sendiri atau hal tersebut hanya akan menjerumuskan kita pada gerakan penghancuran diri sendiri.

Kebencian adalah hal yang sangat menyakitkan apabila kita rasakan, terkadang ada saja hal yang menjadikan kita sebagai seorang pembenci sejati entah dalam hal apa, mungkin hal tersebut bertabrakan dengan idealisme dan juga kepentingan kita atau mungkin bersebrangan dengan harapan dan juga keinginan kita. Kebencian berasal dari rasa untuk menyelamatkan apa yang sekarang kita rasakan, menjauhkan kita dari apa yang dapat menghancurkan kita, namun kesemuanya atas dasar logika dan juga nalar kita saja, bukan berdasar dari apa yang bersifat hakiki.

Kebencian dalam tulisan ini akan dibedakan dengan rasa tidak suka, rasa tidak suka merupakan keadaan diri menjauhi apa yang tidak disukai, tidak suka, hanya itu, dan benci sangat berbeda, disini adalah keadaan perasaan diri terhadap sesuatu yang bersifat entah itu baik atau buruk dalam keadaan normal, namun mendorong diri sampai ingin utnuk melakukan tindakan agresi kepada objek kebencian. Kebencian mendorong manusia untuk memiliki panas yang membara didalam hati, menjadikan diri sangat tidak stabil dan membakar kepala akibat mendidihnya darah akibat kebencian.

Apa yang dirasakan manusia terkadang membutakan logika yang ia miliki, segala upaya akan dilakukan untuk melakukan tindakan negatif terhadap objek yang dibenci selama ada kesempatan, atau bahkan sampai-sampai menciptakan kesempatan tersebut untuk memuaskan hasrat kebenciannya, entah dengan menyakiti atau bahkan sampai menghilangkan nyawa secara sadis dan tidak berperikemanusiaan. Akibat kebencian yang dipupuk dan penuh dengan rasionalisasi-rasionalisasi yang salah dan mengakibatkan kepercayaan yang salah didalam kepala manusia sehingga memandang segala sesuatu yang dilakukan oleh yang dibenci sebagai sesuatu yang merugikan dirinya (pembenci).

Rasa tidak suka mungkin boleh saja kita tanamkan terhadap segala macam hal yang bertentangan dengan dasar ideologi kita, sebagai contoh untuk orang beragama akan tidak menyukai segala macam hal yang ditetapkan sebagai salah oleh agamanya, maka para pemeluk agama tersebut akan sedikit demi sedikit untuk mengikis keberadaan hal yang dianggap salah terebut dengan dasar tidak suka, dan bukan atas dasar kebencian yang mereka tanamkan dalam diri mereka. Karena rasa benci itu sendiri yang membakar apa yang ada dalam diri mereka menjadikan seseorang terbutakan dalam kebencian, terseret dalam nikmatnya membenci dan keinginan untuk menyiksa yang dibenci, secara sadis dan tidak bermoral sama sekali, hanya nafsu yang dikembangkan, dihalakan oleh peraturan namun dengan cara yang lebih tidak bermoral. Maka dari kebencian itu akan membawa seseorang yang membawa panji kebenaran sebagai seseorang yang hanya bertopeng kebenaran dengan tujuan, niat dan keinginan yang buruk.

Menjauhkan diri dari kebencian akan membuat kita dapat berpikir dan memprediksi dengan semestinya, tidak terbawa atau terpengaruh oleh emosi negatif yang menyesatkan, menjauhkan kita dari keinginan sesat yang dibalut dalam kemasan keinginan suci, menjauhkan kita dari petaka yang akan membunuh diri kita sendiri. perasaan yang membutakan seperti benci terkadang memiliki nikmat tersendiri bagi pemiliknya, mereka terlihat puas jika sudah dapat membalas kebenciannya, mereka terlihat seperti ingin ada dan ada lagi pihak yang mereka benci, sehingga rasio mereka mencari kesalahan dan pembenaran untuk dapat membenci orang lain lalu dengan demikian memperlakukannya dengan sangat keji dan tanpa belas kasih hanya kebencian yang mengambil alih dan menyisakan duka yang dalam bagi diri sang korban.

Kesadaran diri dari kebencian adalah benar adanya, ketika kita dirugikan orang lain atau berada pada posisi terancam kebencian terkadang muncul, entah walau hanya sepercik atau sudah sampai membakar, membuat diri mengambil langkah pasti yang akan menyelamatkan diri sendiri entah dengan menghindar atau maju menyerang, hal tersebut dilakukan tanpa penilaian yang rasional hanya dengan penilaian dasar dari apa yang kita rasakan, mengakibatkan kita terjerumus dalam kesalahan dalam pengambilan langkah.

Tindakan yang baik adalah tindakan yang dilakukan secara sadar, melalui pemikiran atau mungkin melalui intuisi perasaan yang bersih, dan bukan dengan pengaruh benci yang dirasionalisasi dan juga bukan dengan intuisi delusi. Manusia tidak akan merasakan jernih dan tenang didalam dirinya jika masih menyimpan kebencian didalam dirinya, entah itu dendam dan juga perasaan iri, dengki dan srei, walau dalam diri setiap insan hal tersebut selalu ada sebagai suatu pembawaan dan juga ilham untuk mencondongkan diri pada keburukan, tetapi dengan dirinya sendiri sebagai raja bagi diri sendiri dapat menahan segala macam hal tersebut hingga terdorong sampai titik yang rendah dan serendah-rendahnya karena jelas semua itu tidak dapat dihilangkan dari dalam diri setiap insan.

Kemampuan manusia untuk menjernihkan perasaannya sendiri merupakan berkah yang mereka miliki, manusia dapat menenangkan diri dalam keadaan yang paling kalut sekalipun, menjauhkan diri dari keadaan sangat menyiksa yang ditimbulkan oleh perasaannya sendiri. kalaupun parasaan itu datang akibat suatu tindakan tidak adil yang secara nyata dilakukan oleh orang lain maka kemampuan manusia untuk menerima dan memaafkan adalah lebih baik, sehingga manusia walau telah dirugikan sekalipun, akan membawa dirinya menjadi lebih kuat, karena dengan kesadarannya yang sehat mampu memberikan kesempatan pada dirinya untuk melahap rasa sakit yang berfungsi bagai meminum jamu (pahit namun menyehatkan), mengambil pelajaran bahwa apa yang telah dilakukan orang lain terhadap diri kita jangan sampai kita lakukan kepada orang lain jikalau hal itu kita rasa menyakitkan diri kita, kemudian dengan memaafkan dan menerima mampu menjadikan diri kita sebagai pemilik mental yang kuat, jauh dari sifat manja secara perasaan, kemudian membuat kita lebih ‘luwes’ dalam menghadapi kehidupan, dan yang terakhir dan yang terpenting adalah sebagai bahan introspeksi diri, bagaimana kita akhirnya bisa melihat apa yang kita lakukan selam ini terhadap orang lain, apakah sudah memberikan rasa sayang dan kasih bagi semua ataukah kita juga menyisakan kebencian tersendiri terhadap orang-orang yang ada disekitar kita.

Demikian betama meruginya kita jika menghabiskan energi yang kita miliki untuk membenci, merubah apa yang tadinya baik menjadi buruk, menyebarkan kerusakan di muka bumi, sedangkan alam itu berjanji bahwa apa yang kita tanam maka akan kita tuai, menanam singkong maka akan tumbuh singkong, menanam cinta akan menuai cinta, menanam benci akan mebuahkan petaka, itulah ketetapan.

Baca terusannya......

Jumat, 02 Oktober 2009

Manusia #1

Adakalanya menjadi manusia itu memikirkan manusia lain, merasa takjub dan juga terheran-heran dengan apa yang mereka lakukan, bertindak sebagai orang luar yang tidak terkait dengan manusia lain adalah sulit rasanya dilakukan oleh seorang manusia dalam menghadapi hidupnya, karena setiap orang memiliki kehidupannya masing-masing. Terkadang ada saja seseorang yang ingin memperhatikan manusia namun ia sendiri lupa bahwa ia juga manusia dan juga memiliki lingkaran kehidupannya sendiri.

Perasaan dapat lepas dari kehidupan adalah dusta bagi manusia selama ia masih bernafas, karena ia akan tetap terikat dnegan gravitasi di atas bumi dan juga membutuhkan komunikasi, sosialisasi dan kasih sayang. Yang menakjubkan dari menjadi manusia adalah kehidupan itu sendiri walau karena manusia yang selalu saja melihat bahwa ada saja hal diluar sana yang membuat mereka merasa gempar seperti penemuan benda asing atau mungkin kejadian-kejadian yang luar biasa, dimana mereka yang melihatnya merasa sangat takjub. Padahal kalau dipikir-pikir kehidupan yang kita jalani sebagai ‘kehidupan biasa’ itu sendiri adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, bagaimana bisa kita berpikir merasakan dan juga mengalami berbagai macam perasaan dalam diri kita sendiri.

Menjadi manusia memiliki sudut pandangnya masing-masing, sesuai dengan apa yang telah dipelajari dan apa yang telah dialami. Menjadi manusia adalah ajaib, terlahir tanpa mengetahui apa-apa, tanpa pernah ingat bahwa diri pernah memilih untuk terlahir dari siapa dan dalam keadaan bagaimana juga sebagai siapa. namun karena seperti sudah terbiasa dengan sesuatu yang ‘biasa’ itu sendiri manusia merasakan bahwa hidup hanyalah siksaan, kesenangan dan berlalu saja, karena manusia sendiri yang tidak mau melihat apa yang ada disekitarnya, bahkan mereka tidak mau menyadari apa yang sebenarnya mereka sadari.

Dengan hanya memikirkan tentang keadaan manusia itu sendiri, mereka terkadang lupa, mengalami kerugian dari hari ke hari bahkan penulis sendiri yang terkadang tenggelam dalam dunia yang konvensional seperti apa yang biasa kita alami sehari-hari, sebagai contoh, bangun pagi lalu mandi lalu sarapan lalu berangkat kerja lalu pulang lalu makan lalu minum lalu tidur dan begitu lagi kemudian harinya, mungkin terkecuali sabtu dan minggu bisa makan lalu minum lalu tidur saja karena hari libur.

Yang seperti contoh diatas adalah kehidupan manusia pada jaman sekarang, namun bukan bermaksud meremehkannya, melainkan dari sudut pandang yang lain hal tersebut adalah menakjubkan, bahkan manusia dalam menjalani seperti contoh yang ada diatas akan dapat merasakan tekanan yang teramat sangat, entah karena masalah apa namun pasti saja ada masalahnya. Manusia dan pemikirannya adalah satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, menjadi manusia yang mau untuk keluar dari kebiasaan berpikir yang biasa akan mengakibatkan pertentangan antara satu manusia dan manusia yang lain karena manusia seperti telah memiliki kesepakatan bersama untuk cara berpikir yang dapat diterima oleh manusia lainnya.

Kebebasan manusia sendiri dalam berpendapat dan juga menentukan apa yang ingin dipikirkannya terkadang telah diatur oleh pola hidup dan juga kesepakatan sosial yang telah terbentuk selama ratusan tahun, namun kebudayaan dan juga tradisi yang dimiliki manusia seharusnya dapat menuntun manusia untuk menjadi manusia yang bebas secara pribadi untuk mengekspresikan dirinya secara baik walau hanya untuk dirinya sendiri.

Hilangnya nilai-nilai potensi manusia terletak pada apa yang telah mereka sepakati bersama dengan manusia lainnya, dengan contoh apakah itu yang baik dan apakah itu yang buruk baik itu secara tertulis ataupun secara tersirat saja. Manusia makhluk yang kompleks dengan kekhasannya yang cenderung membuat dirinya takjub akan apa yang ada pada dirinya sendiri. itulah manusia.

Entahlah apa itu manusia, saya manusia dan yang membaca tulisan ini kemungkinan besar juga pasti manusia, penulis hanya mencoba menuliskan apa yang ada dalam pemikiran dan tidak bertujuan apa-apa, karena ini adalah sebuah tulisan dan pemikiran yang masih mengalami perubahan, mungkin cukup sampai disini untuk yang pertama kali, jikalau ada yang belum bisa menangkap arti maka mohon dimaklumi karena ini masih bersifat abstrak (atau sengaja untuk diabstrakkan terlebih dahulu). Semoga ini menjadi seri tulisan Manusia.

Baca terusannya......

Selasa, 29 September 2009

Tersiksa Keinginan

Dalam beberapa masalah apa yang kita rasakan sebagai manusia adalah keinginan, dan terkadang tersiksa akan keinginan merupakan suatu keadaan yang sangat memalukan karena apa yang kita rasakan tidak baik diakibatkan sesuatu yang kita harapkan namun kedatangannya tidak juga kunjung tiba.

Harapan merupakan cahaya kehidupan manusia, namun adakalanya apa yang kita inginkan dalam dunia ini tidak akan pernah atau tidak mungkin untuk kita dapatkan. Manusia memiliki banyak-banyak-banyak sekali keinginan dan manusia adalah makhluk yang tidak akan pernah puas.

Keinginan boleh saja kita miliki namun seperti biasa apa saja yang kita harapkan tidak akan 100% akan sesuai dengan harapan. Pengharapan manusia terhadap dunia adalah salah satu kelemahan manusia dimana dalam kehidupan yang tidak pasti ini manusia selalu saja menginginkan agar dunia berjalan sesuai dengan kehendaknya. Nafsu adalah kodrat manusia, manusia memiliki keinginan terlepas dari apakah itu dipandang baik oleh batasan moral atau apakah itu buruk.

Manusia dan keinginan beserta mimpi-mimpinya terkadang menjadi penyemangat hidupnya, untuk meraih segala macam yang diinginkannya, entah ia seorang hedonis yang menginginkan kebahagiaan duniawi atau ia adalah seorang pertapa yang menginginkan kesenangan/ketenangan spiritual, yang jelas adalah semua itu berdasar dari keinginan itu sendiri. mungkin berbeda lagi dengan keinginan para teroris dimana mereka ingin negara adi-daya itu luluh lantah akibat bom mereka, atau para deermawan yang menginginkan bahwa di dunia tidak lagi boleh ada yang namanya kelaparan. Dan semua itu berawal dari keinginan.

Macam model isi kepala manusia itu adalah sebanyak jumlah kepala manusia itu sendiri, masing-masing dengan apa yang ia harapkan dan masing-masing dengan hambatannya sendiri-sendiri. proses manusia untuk mencapai apa yang ia inginkan ada yang menjadi sulit dan ada juga yang mudah, namun semua bersifat subjektif tergantung oleh mereka yang mengalaminya, mungkin ada seseorang yang terlihat oleh orang lain seperti tidak membutuhkan kerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan ada juga yang melihat bahwa ada seseorang yang harus bertaruh dengan nyawanya untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Namun itu pendangan bagi yang melihat dan bukan dari mereka yang menjalani, dimana dari mereka yang menjalani juga mengatakan hal yang berbeda-beda.

Terserah kepada manusia itu menjadikan apa dalam dunia ini sebagai tujuannya, tidak ada yang tahu apa yang diinginkan manusia hari ini dan hari esok dimana keduanya sering kali berubah terpengaruh oleh pengalaman baik secara fisik maupun mental terhadap dirinya. Intinya manusia adalah makhluk yang dapat dikatakan sulit untuk ditebak. Namun manusia hidup dengan ‘ingin’ didalam dirinya, entah apakah itu, namun tanpanya rasa-rasanya manusia tidak dapat hidup, entah mungkin hanya hal kecil dan sepele, seperti ingin melangkah satu langkah kedepan, atau mungkin ingin kekamar mandi dan lain-lain dimana ingin yang satu ini terkadang dikatakan ‘kehendak bebas’. Namun dalam berkehendak sendiri manusia terkadang tidak mendapatan apa yang diinginkannya, bukan tergantung pada seberapa besar keinginan yang ada dalam dirinya, melainkan manusia juga dibantu oleh keadaan, dimana keduanya cenderung bersinergi untuk memenuhi atau menggagalkan segala macam kehendak itu sendiri.

Dalam pemikiran penulis kehendak dan pendukung kehendak bukanlah memberikan peran sebanyak 50:50 melainkan tidak ada persentase jelas dari pengaruh keduanya terhadap hasil yang akan didapatkan, hal ini adalah bentuk dari pemikiran tentang adnaya faktor keberuntungan, dimana faktor tersebut rasa-rasanya merusak persangkaan kita terhadap sesuatu selalu dimanapun.

Para ilmuwan mengatakan bahwa keadaan dunia yang sebenarnya adalah chaos belaka, semua berjalan secara acak tanpa ada dapat suatu perhitungan menebaknya. Mereka mengatakan bahwa selalu saja ada kemungkinan walau sekecil apapun, karena keacakan itu sendiri yang berjalan dan tersebar secara tidak menentu. Namun bagi seorang agamawan yang percaya kepada tuhan lebih memilih untuk menyerahkan segala macam hal hanya kepada yang maha kuasa dimana tak ada sesuatupun yang tidak berada dibawah kehendak tuhan termasuk pada pemikiran manusia sekalipun.

Jadi ketika manusia berharap akan sesuatu pasti ada saja faktor yang mendukungnya dan juga ada faktor yang akan menghambat terlaksananya, hal ini terkadang tidak dapat diketahui oleh manusia atau disangka oleh manusia namun apa yang manusia lakukan dengan melakukan generalisasi terhadpa sesuatu dapat terbukti salah dan tidak tepat adanya dnegan kenyataan. Dengan demikian manusia hidup dalam ketidak pastian dalam dunianya sendiri dengan melakukan pengharapan 100% dimana kemungkina untuk dapat terlaksana tidak sesuai dengan pengharapan yang telah diberikan oleh dirinya.

Kemampuan manusia untuk menerka dan melihat dalam hal ini adalah dibutuhkan terlebih kemampuan intuitif manusia yang menggunakan perasaan dan juga logika secara bersamaan. Entah apa yang mereka inginkan terkadang ada yang sangat ditolong oleh keadaan, dalam hal ini keadaan yang tepat oleh orang yang tepat dimana keduanya saling mendukung untuk pemenuhan harapan terkadang dapat ditemukan, namun tetap saja hal terebut terlihat dan dirasakan oleh yang mengalami sebagai sesuatu yang tidak disangka-sangka, mengapa penulis berani mengatakan demikian adalah karena sifat manusia sendiri yang jarang bisa ditebak secara baik dan kedua adalah apa yang selalu penulis alami sehari-hari, walau terjadwal sekalipun namun penulis tidak pernah menyangka apa yang ada diesok hari pada hari sebelumnya, semua susunan rencana mungkin berjalan dengan baik, namun setiap detik yang terjadi didalamnya berada diluar kendali diri manusia.

Kecelakaan kah atau keberuntungan kah dapat terjadi kapan dan dimana saja, tanpa ada yang bisa mempredikisinya, atau mungkin terprediksi namun tidak berpengaruh kepada kenyataan. Hal-hal yang demikian adalah sebuah keadaannya nyata bahwa apa yang ada dihari esok masih belum tampak jelas bagi mata manusia. Berkaitan dengan masalah keinginannya manusia dituntut untuk menjadi pribadi yang luwes dalam menghadapi segala macam kemungkinan, entah apa yang akan ia alami dalam kehidupan ini entah akan menjadi menyedihkan berdasarkan standar seorang raja atau akan menjadi menyenangkan berdasarkan standar seorang bar-bar. Apa yang saja yang mereka harapkan diharapkan untuk melakukan tindakan sepenuh hati tenaga dan jiwa untuk mendapatkannya namun untuk hasil yang sempurna diharapkan manusia memiliki pemikiran tentang kemungknan dan juga suatu ketetapan dimana manusia belum mampu mengalahkan waktu.

Sehingga manusia hanya ingat akan hal berusaha, dimana manusia selalu berusaha dan mendapatkan balasan dari usahanya sesuai dengan apa yang ia kerjakan. Kesan dari kata yang sudah penulis sebutkan mungkin dalam hal ini sangat terdengar subjektif namun, dalam kenyataannya manusia dengan sejuta pengharapan yang sudah mengorbankan segala macam yang ia miliki tidak kunjung juga mendapatkan apa yang ia usahakan, namun apakah demikian adanya jika kita melihat dari apa yang sudah didapatkan oleh manusia tersebut didalam kepalanya, atau ternyata apa yang ia inginkan ternyata memang sudah berubah sama sekali dari apa yang ia inginkan dalam versi anda yang memperhatikan. Mungkin bisa saja sama dan mungkin bisa saja tidak.

Dalam hal keinginan manusia seharusnya selalu bersyukur karena masih saj kesempata bagaimanapun keadaannya, walau tidak selalu dan juga tidak selamanya demikian namun setidaknya kemampuan logika dasar manusia masih dapat dijadikan suatu landasan dalam memprediksi walau tidak ada data jelas dari berapa banyak kebenaran yang akan didapat, namun dengan berpikir jernih dan berharap dengan harapan yang berdampak jernih pada kehidupan maka menjadi manusia yang tidak memiliki harapan apa-apa sekalipun akan terasa sangat menyenangkan dan yang terpenting adalah tenang dengan tidak tersiksa dengan keinginan yang bukan-bukan.

*tulisan ini sangat terpengaruh oleh buku Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb

Baca terusannya......

Minggu, 23 Agustus 2009

Kenangan

Hidup dalam dunia ini sebagai manusia, entah apa yang akan terjadi didepan nanti, tidak ada yang mengetahui, apa yang kita rencanakan sekarang untuk esok hari, tidak ada yang mengetahui apakah akan terlaksana atau akan terbengkalai dan akan terjadi sesuatu yang lain diluar rencana kita. Yang jelas selama hidup penulis apa yang kita usahakan sekarang tidak pernah sebelumnya terbayangkan dalam benak penulis, bahwa semua akan menjadi seperti ini, walau itu harapan, tidak sesuai dengan yang dicita-citakan, satu sisi mereka menjadi lebih baik namun ada kalanya mereka tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Apa yang telah berlalu biarlah berlalu, mereka menjadi kenangan tersendiri yang ada dalam benak kita, manjadi keabadian yang tidak akan pernah kembali lagi. Kenangan indah atau kenangan buruk semua datang silih berganti, menyejukkan hati dan terkadang menyesakkan hati. Satu per satu, manusia, keadaan, kebencian dan kecintaan datang silih berganti, memenuhi ruang dalam kepala, dipikirkan dan diambil maknanya, ada kalanya memberikan pelajaran, namun tidak jarang juga yang malah menyesatkan. Ada yang bilang kalau kehidupan ini adalah sebuah proses, prose menuju jati diri yang abadi, yaitu kematian dan jadilah saja semua ini kenangan.

Detik yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi, semua yang telah dikenang akan tersimpan dalam memori yang tidak akan pernah dilupakan, entah masuk kedalam prasadar kita, atau mungkin masuk keadalam alam bawah sadar kita. Yang mana yang dimana? Yang mana kita ingat adalah kenangan manis dan kenangan buruk jarang sekali ingin kita ingat-ingat. Semua manusia tidak menginginkan untuk mengalami keburukan dalam kehidupannya, manusia tidak ingin ada kekurangan dalma kehidupannya, manusia ingin senang manusia ingin bahagia, namun manusia yang ingin mencapai tempat yang lebih tinggi haruslah melewati jalan yang tinggi dan curam ketika melihat kebawah.

Manusia yang kuat adalah manusia yang mau menerima apa yang ditawarkan kehidupan kepada diri mereka, bukan menerima dengan lapang namun menerima denga jati diri dimana mereka membentuknya sendiri, manusia yang kuat adalah manusia yang terbentuk oleh kerasnya alam, manusia yang tidak menginginkan adanya kemelut didalam dirinya, manusia yang mau merdeka, menjalankan apa yang mereka inginkan sesuai dengan tuntutan jiwanya, tuntutan dari hatinya, panggilan dari ruh terdalam yang bersemayam didalam tubuh mereka.

Manusia boleh saja secara sadar mengatakan kalau diri mereka ingin sekali menjauhi rasa sakit, namun apa boleh buat ternyata rasa sakit sangatlah baik bagi diri mereka. Apa yang mereka harapkan, apa yang menjadi tujuan dan cita-cita mereka tidak akan dengan mudah didapat, walau ada sebagian yang mendapatkannya dengan cara yang dikatakan mudah oleh manusia lainnya. Ketidak-abadian manusia adalah ciri dari kesempurnaan mereka, dimana mereka mengetahui ketidak-abadian melekat pada diri mereka, namun mereka berjalan lenggak-lenggok didunia ini bagai untuk selama-lamanya. Proses manusia dalam membutakan dirinya dari ketidak-abadian dirinya dapat tercermin dari perilaku kita sehari-hari.

Kesempurnaan yang mereka harapkan pada akhirnya hanya akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah diingat oleh sesiapapun juga, mereka hilang didalam tanah dan air, mereka menjadi jasad renik yang dikembalikan kepada alam. Manusia dan kehidupan adalah dua sisi mata uang, dimana manusia dan kehidupan selalu bertolak belakang, yang satu berjalan maju dan yang satu berjalan mundur, dalam artian yang terlalu mendalam ini sangat sulit untuk dirasakan oleh manusia, karena terlahir sebagai manusia dan berjalan menjadi alam, dikatakanlah hal tersebut sebagai mundur, sedangkan kehidupan dimana planet ini dan segala teman-teman sebangsa planet lainnya berjalan maju. Berjalan maju dalam pola pikir manusia, walau sebenarnya keseluruhannya menuju suatu titik yang berpusat entah pada apa.

Biarlah tulisan ini menjadi pemikiran tersendiri bagi penulis, penulis hanya mencari jawaban dari pembodohan secara sadar yang penulis lakukan terhadapa diri penulis sendiri, dimana diri dan jiwa mulai mengalami yang dinamakan ketidak serasian, kedaan biasa yang akan terlewati dengan usaha yang keras dan juga usaha yang mendalam, karena apapun yang akan terjadi maka akan terjadi, jikalau kita mengatahui maka kita akn mengubah sesuai dengan harapan kita, namun keberuntungan kita untuk tidak mengetahui apa yang akan terjadi adalah dimana kita memiliki harapan apapun didepan nanti, dengan perjuangan dan semangat, dengan kemauan dan juga keikhlasan, dengan kesabaran dan juga pengorbanan. Atas semua ini mari kita mengharapkan kemenangan, agar menjadi kenangan yang indah, agar menjadi kenangan yang memberikan pelajaran, walau akan berubah bentuk dalam wujud yang tidak orisinil lagi karena distorsi pemahaman yang ada didalam diri setiap manusia.

Baca terusannya......

share

hidup itu adalah suatu kesementaraan dimana kita yang berada didalamnya hanya bisa merasa takjub tanpa henti merasakan keajaiban dari hidup itu sendiri, namun terkadang sesuatu yang terjadi dengan baik tidak terlihat seperti apa yang istimewa, dengan apa yang kita miliki dan kita rasakan maka cobalah untuk memikirkan mengapa semua ini terjadi dan menjadi seperti ini.